Pengembangan Obat Baru : Sebuah Proses yang Kompleks dan Menarik
Pengembangan obat baru adalah sebuah perjalanan panjang dan kompleks yang dimulai dari penemuan senyawa potensial hingga akhirnya obat tersebut bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Proses ini melibatkan berbagai tahapan penelitian dan pengembangan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun dan investasi yang besar.
Secara garis besar, pengembangan obat baru
melalui beberapa tahapan berikut:
1. Penemuan senyawa
a) Identifikasi target
Hal
ini melibatkan proses pencarian molekul spesifik (biasanya protein) atau proses
biologis dalam tubuh yang menjadi penyebab atau berkontribusi pada suatu
penyakit. Pentingnya proses identifikasi target ini, memungkinkan peneliti
untuk fokus pada pengembangan senyawa yang berinteraksi dengan target tertentu,
membantu memprediksi efektivitas dan keamanan obat sebelum dilakukan uji
klinis, juga mengarah pada pengembangan obat yang lebih spesifik sehingga
mengurangi efek samping. Beberapa contoh target obat antara lain, reseptor
(protein yang menerima sinyal kimia dari molekul lain), enzim (protein yang
mengkatalisis reaksi kimia dalam tubuh), kanal ion (protein yang memungkinkan
ion bergerak melintasi membran sel, dan asam nukleat (DNA atau RNA yang terlibat
dalam ekspresi gen). Proses identifikasi target ini melibatkan beberapa
langkah:
· Pemahaman mekanisme penyakit
Dilakukan
dengan studi genetik terlebih dahulu untuk mengidentifikasi gen yang terkait
dengan penyakit. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan analisis protein yang
terlibat dalam proses penyakit. Terakhir, studi pathway penting untuk dilakukan
untuk memahami jalur biokimia yang terganggu dalam penyakit.
· Pilihan target
Perlu
dipastikan bahwa target yang dipilih benar-benar dapat dicapai oleh senyawa
kimia dan terlibat dalam patogenesis penyakit
· Pengembangan assay
Melakukan
serangkaian pengujian seperti mengukur interaksi antara senyawa uji dan target,
mengukur efek senyawa uji pada sel yang mengekspresikan target, serta mengukur
efek senyawa uji pada model hewan penyakit.
Melakukan identifikasi bukan tanpa
tantangan. Dalam prosesnya kita dapat menemukan banyak penyakit disebabkan oleh
interaksi kompleks antara berbagai faktor genetik dan lingkungan. Pada kondisi
kanker, seringkali sel kanker memiliki mutasi yang berbeda-beda sehingga sulit
untuk menemukan target yang umum. Dalam melakukan validasi target yang sudah
diperoleh, membutuhkan waktu dan sumber daya yang signifikan untuk memvalidasi
target yang potensial. Untuk mengidentifikasi target diperlukan teknologi yang
mendukung seperti, teknologi omics yang mana genomics, proteomics, dan
metabolomics digunakan untuk mengidentifikasi perubahan molekuler dalam
penyakit. Selain itu, dapat juga menggunakan teknologi bioinformatika dengan
analisis data besar untuk menemukan pola dan hubungan antara data genetik,
protein, dan metabolit. Kristalografi protein juga dapat membantu proses
identifikasi target dengan menentukan struktur tiga dimensi protein untuk
merancang senyawa yang mengikat secara spesifik.
b) Screening senyawa
Proses
sistematis untuk menguji ribuan bahkan jutaan senyawa kimia terhadap target
biologis yang telah diidentifikasi. Tujuannya adalah menemukan senyawa “hit”
atau “lead compound” yang menunjukkan aktivitas biologis yang diinginkan, seperti
menghambat atau mengaktifkan target tersebut. Adapun tahapan umum dalam
screening senyawa diantaranya:
· Pembentukan koleksi senyawa
Umumnya
koleksi senyawa dibagi kedalam tiga kelompok, (1) koleksi senyawa alami,
koleksi senyawa yang diekstrak dari tumbuhan, hewan, atau mikroorganisme, (2)
koleksi senyawa sintetis, koleksi senyawa yang disintesis secara kimia, dan (3)
koleksi kombinatorial, koleksi senyawa yang dihasilkan melalui sintesis
kombinasi untuk menghasilkan variasi struktur yang sangat besar.
· Pengembangan assay
· HTS (High-Throughput Screening)
Dilakukan
menggunakan sistem otomatis untuk menguji ribuan senyawa secara simultan, juga
memungkinkan identifikasi cepat senyawa “hit”.
· Analisis data
Tujuannya
adalah untuk mengidentifikasi senyawa yang menunjukkan aktivitas biologis yang
signifikan dan struktur aktivitas hubungan (SAR) dengan membandingkan aktivitas
senyawa yang berbeda.
Metode
screening senyawa dapat dilakukan dengan menggunakan simulasi komputer untuk
memprediksi interaksi antara senyawa dan target sebelum dilakukan pengujian
eksprerimen (virtual screening), membangun molekul obat dari fragmen kecil yang
mengikat target (fragment-based drug discovery), atau dengan mengidentifikasi
senyawa yang menghasilkan fenotip yang diinginkan tanpa mengetahui target yang
tepat (phenotypic screening). Screening senyawa memiliki tantangan tersendiri,
seperti jumlah senyawa yang perlu diuji sangat besar, adanya kemungkinan
kesalahan dalam hasil uji, juga sistem biologis yang sangat kompleks sehingga
sulit untuk memprediksi interaksi antara senyawa dan target secara akurat.
c) Optimasi senyawa
Dengan
mengoptimalkan senyawa, para peneliti dapat meningkatkan peluang keberhasilan
pengembangan obat yang aman dan efektif. Proses ini membutuhkan kombinasi
antara pengetahuan kimia, biologi, dan teknologi informasi. Berbagai strategi
perlu dilakukan dalam mengoptimasi senyawa, diantaranya:
· Modifikasi struktur
Dalam
memodifikasi struktur kita dapat membuat analog sintesis, yakni membuat senyawa
yang memiliki struktur mirip dengan senyawa hit, namun dengan modifikasi
tertentu pada gugus fungsional atau kerangka molekul. Selain itu juga dapat
menggunakan pemodelan molekuler, menggunakan simulasi komputer untuk merancang
senyawa baru dengan interaksi yang lebih kuat dengan target. Pilihan lain, bisa
dilakukan dengan mensintesis sejumlah besar sneyawa dengan variasi struktur
secara sistematis, dikenal dengan istilah combinatorial chemistry.
· Pengembangan assay
· Analisis hubungan struktur-aktivitas
Pertama-tama
perlu melakukan identifikasi bagian molekul yang penting untuk aktivitas
biologis. Kemudian, dibuat model matematis untuk memprediksi aktivitas senyawa
berdasarkan struktur kimianya.
Interaksi
antara senyawa dan target biologis yang sangat kompleks dan sulit diprediksi
secara akurat menjadi salah satu tantangan dalam optimasi senyawa. Selain itu,
proses optimasi senyawa dapat memakan waktu dan biaya serta kemungkinan
munculnya resistensi terhadap senyawa obat juga menjadi tantangan dalam
optimasi senyawa.1
2. Pra-Klinis
Pada
tahap ini, calon obat diuji secara ekstensif pada hewan percobaan untuk
mengevaluasi keamanan, efektivitas, dan sifat farmakokinetiknya. Tujuannya
adalah untuk mengidentifikasi potensi efek samping dan toksisitas obat,
menentukan dosis yang optimal untuk menghasilkan efek terapeutik tanpa
menyebabkan efek samping yang serius, menyiapkan data yang diperlukan untuk
perancangan uji klinis pada manusia, serta menganalisis bagaimana obat diserap,
didistribusikan, dimetabolisme, dan diekskresikan dalam tubuh.2 Ada dua jenis pengujian pra-klinis,
yaitu:
· Uji in vitro
-
Uji
sel: Menguji efek obat pada sel kultur.
-
Uji
jaringan: Menguji efek obat pada jaringan organ yang terisolasi.
-
Uji
biokimia: Menguji interaksi obat dengan target molekuler.
· Uji in vivo
-
Uji
farmakologi: Menguji efek farmakologis obat pada hewan utuh.
-
Uji
toksikologi: Menguji efek toksik akut dan kronis obat pada hewan.
-
Uji
farmakokinetik: Menganalisis profil farmakokinetik obat pada hewan.
Tahapan
umum dalam uji pra-klinis diawali dengan (1) memilih jenis hewan yang sesuai
dengan penyakit yang akan diobati, kemudian dilanjut dengan (2) merancang studi
yang sesuai dengan tujuan pengujian, (3) memberikan obat pada hewan dengan
berbagai dosis, (4) melakukan pengamatan terhadap hewan selama periode
pengujian, dan (5) menganalisis data yang diperoleh untuk menarik kesimpulan.
Efek
farmakologis (perubahan fisiologis atau biokimia yang disebabkan oleh obat),
toksisitas (efek samping yang merugikan, termasuk kerusakan organ, kematian
sel, dan efek pada sistem reproduksi), dan farmakokinetik (konsentrasi obat
dalam darah dan jaringan seiring waktu, serta laju metabolisme dan ekskresi
obat) menjadi parameter yang diukur dalam uji pra-klinis. 3 4
3. Uji Klinis
Pada
tahap ini, calon obat diuji pada manusia untuk pertama kalinya. Tujuannya untuk
mengevaluasi keamanan dan efektivitas obat pada manusia, serta menentukan dosis
yang tepat. Uji klinis biasanya dibagi menjadi beberapa fase, masing-masing
dengan tujuan yang spesifik:
· Fase I
-
Tujuan:
Mengevaluasi keamanan obat pada manusia sehat.
-
Subjek:
Sukarelawan sehat dalam jumlah kecil.
-
Dosis:
Dosis dimulai dari yang sangat rendah dan secara bertahap ditingkatkan.
-
Durasi:
Relatif singkat
· Fase II
-
Tujuan:
Mengevaluasi efektivitas dan keamanan obat pada pasien yang menderita penyakit
tertentu.
-
Subjek:
Pasien dengan penyakit yang ingin diobati.
-
Dosis:
Dosis yang dianggap aman berdasarkan hasil fase I.
-
Durasi:
Lebih lama dibandingkan fase I.
· Fase III
-
Tujuan:
Membandingkan efektivitas dan keamanan obat baru dengan pengobatan standar atau
plasebo pada kelompok pasien yang lebih besar.
-
Subjek:
Jumlah pasien yang lebih besar dan terdistribusi di berbagai pusat penelitian.
-
Durasi:
Relatif panjang.
· Fase IV
-
Tujuan:
Memantau keamanan dan efektivitas obat setelah dipasarkan.
-
Subjek:
Pasien yang menggunakan obat di dunia nyata.
-
Durasi:
Berkelanjutan.
Pelaksanaan
uji klinis tentunya perlu memerhatikan beberapa aspek penting seperti, etika
bahwa uji klinis harus dilakukan sesuai dengan prinsip etika penelitian
termasuk informed consent dari peserta, randomisasi (pembagian peserta secara
acak ke dalam kelompok perlakukan (mendapat obat) atau kelompok kontrol
(mendapat plasebo)), peserta dan/atau peneliti tidak mengetahui apakah peserta
menerima obat atau plasebo (single-blind atau double-blind), dan adanya
kelompok kontrol untuk membandingkan efek obat dengan tidak ada perlakuan.5 6
4. Registrasi dan peluncuran
Setelah
melewati tahap-tahap panjang dan kompleks dalam pengembangan obat, termasuk
penelitian pra-klinis dan uji klinis, langkah selanjutnya adalah registrasi dan
peluncuran obat ke pasar. Kedua tahap ini merupakan tahap akhir yang sangat
krusial dalam memastikan bahwa obat baru yang inovatif dapat diakses oleh
masyarakat yang membutuhkan. Registrasi obat adalah proses pengajuan permohonan
izin edar obat kepada badan pengawas obat dan makanan (seperti BPOM di
Indonesia atau FDA di Amerika Serikat). Proses ini bertujuan untuk memastikan
bahwa obat yang akan dipasarkan memenuhi standar keamanan, kemanjuran, dan mutu
yang telah ditetapkan. Berikut daftar dokumen yang diperlukan untuk registrasi:
·
Data
Pra-Klinis: Hasil uji pada hewan, termasuk data keamanan dan farmakokinetik.
·
Data
Klinis: Hasil uji klinis pada manusia, termasuk data keamanan, efektivitas, dan
dosis yang direkomendasikan.
·
Data
Manufaktur: Informasi mengenai proses produksi obat, termasuk bahan baku,
formula, dan fasilitas produksi.
·
Data
stabilitas: Data mengenai stabilitas obat dalam berbagai kondisi penyimpanan.
·
Labeling:
Informasi yang akan tercantum pada label obat, termasuk indikasi, dosis, cara
penggunaan, dan peringatan.
Selanjutnya,
badan pengawas obat akan mengevaluasi semua dokumen yang diajukan untuk
memastikan kelengkapan dan keabsahannya, melakukan inspeksi terhadap fasilitas
produksi untuk memastikan bahwa obat diproduksi sesuai dengan standar yang
baik, serta mempertimbangkan manfaat klinis obat dibandingkan dengan resikonya.
Setelah
mendapatkan izin edar, obat baru dapat diluncurkan ke pasar. Peluncuran obat
melibatkan berbagai aktivitas seperti produksi obat dalam skala besar untuk
memenuhi kebutuhan pasar, melakukan promosi kepada tenaga medis dan masyarakat
umum mengenasi manfaat dan penggunaan obat, memantau keamanan dan efektivitas
obat setelah dipasarkan, juga mendistribusikan obat ke apotek, rumah sakit, dan
saluran distribusi lainnya.
Selama
proses registrasi dan peluncuran berlangsung, perlu dipersiapkan untuk
menghadapi tantangan yang mungkin muncul seperti persyaratan registrasi obat
yang sangat kompleks dan terus berkembang, biaya yang sangat besar untuk proses
registrasi dan peluncuran obat, waktu yang lama, serta persaingan pasar obat
yang sangat kompetitif.1
Referensi :
1. Singh, N. et al. Drug discovery and
development: introduction to the general public and patient groups. Front.
Drug Discov. 3, 1–11 (2023).
2. Khalil, A. S., Jaenisch, R. & Mooney, D.
J. Engineered tissues and strategies to overcome challenges in drug
development. Adv. Drug Deliv. Rev. 158, 116–139 (2020).
3. Pradhan, B. et al. A state-of-the-art
review on fucoidan as an antiviral agent to combat viral infections. Carbohydr.
Polym. 291, 119551 (2022).
4. Hughes, D. & Karlén, A. Discovery and
preclinical development of new antibiotics. Ups. J. Med. Sci. 119,
162–169 (2014).
5. Lacombe, D., Tannock, I., Margulies, A.,
Bogaerts, J. & Dittrich, C. OVERVIEW OF DRUG DEVELOPMENT AND TYPES OF
CLINICAL Prepared by Denis Lacombe ,. Oncol. Educ. portal Oncol. (2019).
6. Akhondzadeh, S. The importance of clinical
trials in drug development. Avicenna J. Med. Biotechnol. 8, 2016
(2016).
Comments
Post a Comment